Viking Dan “Harta Karun” Islam [3-Habis]

Temuan mata uang dirham di Swedia baru-baru ini menunjukkan hubungan Viking Age (Jaman Viking) dengan peradaban Islam

Mata Uang Perak

Dari tahun-tahun permulaan Jaman Viking, orang-orang Arab dari al-Andalus menunjuk pada orang-orang Skandinavia yang mereka temui sebagai al-majus, sebuah kata yang berarti “penyembah api” dan pada umumnya diarahkan pada orang Zoroastrian. Dua kelompok masyarakat ini menyatu kedalam istilah yang sama akibat sebagian sarjana modern yang berspekulasi pada kontak-kontak awal antara para pedagang Norse dan orang-orang Zoroastrian di Persia dan Mesopotamia.

Andalusia tidak terhindar dari serangan-serangan Viking dimana Eropa yang tenang telah berpengalaman. Sejarawan Ahmad al-Ya’qubi, menulis pada tahun 843-844, menceritakan serangan pada Ishbiliyya (Seville) oleh “orang-orang majus yang disebut Rus.” Ibn Qutiya, seorang sejarawan Cordoba di abad ke sepuluh, menulis bahwa penyerang-penyerang tersebut kemungkinan adalah para perompak Denmark yang telah berlayar di atas sungai Guadalquivir. Mereka diusir oleh angkatan perang Andalusia, yang menggunakan  katapel-katapel untuk melemparkan bola-bola peluru menyala dari naptha yang menenggelamkan 30 kapal. Amir ‘Abd al-Rahman II kemudian mengatur suatu gencatan senjata. Tahun berikutnya, legenda itupun terjadilah; ia mengutus sebagai duta kepada raja al-majus seorang penyair tampan, Yahya ibn Hakam al-Bakri, yang dikenal sebagai al-Ghazal (“the gazelle”, “rusa”) untuk menyemarakkan penampilannya dan sajaknya, yang membawa hadiah bagi raja dan isterinya, Queen Noud. Perjalanannya menurut dugaan membawa al-Ghazal sampai ke Irlandia atau Denmark, di mana ia menulis bahwa sang ratu “menahan matahari kecantikan dari kegelapan. Dia hidup di tanah Tuhan yang paling jauh, di mana orang-orang yang menjelajah ke sana tidak menemukan jalan sama sekali.” Pada kenyataannya, misi al-Ghazali tidak hanya ke masyarakat Norse sepenuhnya, tetapi juga ke penguasa Byzantine, dan bertahannya legenda tersebut hingga hari ini mengindikasikan seberapa besar bayang-bayang bangsa Viking pada imajinasi populer sang waktu.

Meskipun gencatan senjata, orang-orang Danes kembali menyerang Spanyol di tahun 859 di bawah perintah dari Hastein dan Bjorn Ironsides,, dua di antara para pemimpin Viking yang paling terkenal. Tetapi 62 buah kapal ular-naga mereka bukanlah tandingan angkatan perang Umayyah. Setelah menempuh perjalanan panjang, orang-orang yang selamat melewati Selat Gibraltar untuk menyerang sepanjang pantai Maroko, yang membuat para peninjau Muslim lainnya mencatat “Orang-orang al Majus, semoga Tuhan mengutuk mereka!, menyerbu negara-kota orang Maroko yang kecil Nakur dan merampasnya. Mereka menangkap semua penghuni kota kecuali mereka yang sempat melarikan diri.” Armada perampok itu meneruskan perjalanannya menggarong selatan Italia dan Perancis, di mana mereka merampok kota Luna di pantai barat laut, yang dipercaya nantinya menjadi Roma. Beberapa sumber Arab mengatakan bahwa mereka mencapai Yunani dan bahkan Mesir. Ketika mereka kembali ke pantai Iberia dua tahun setelah serangan pertama mereka, mereka dikalahkan lagi, dan orang-orang Viking tidak pernah kembali lagi ke Mediterania.

Demikian juga yang terjadi di Timur. Jaman Viking, yang sangat bergantung pada perak Arab, tidak berhasil mengurangi arus koin-koin dirham pada akhir abad ke 10 sebagaimana negara Samanid hancur, tambang-tambang peraknya mendekati kelelahan. Noonan menunjukkan bahwa mata-uang mata-uang perak terus mengalami penurunan nilai mata uang sebagaimana waktu berjalan.

“Sebatang perak bernilai kira-kira 90 persen di tahun 1000 telah merosot menjadi sebatang perak yang bernilai sekitar lima persen pada separuh abad kemudian. Dapat dimengerti, para pedagang Rus tidak lagi menginginkan koin-koin seperti itu.”

Pencarian perak bangsa Rus mundur ke Barat. Mereka yang tidak pernah hidup sepenuhnya menetap di antara populasi lokal bangsa Rusia berlayar pulang, di mana negara-negara mereka yang baru mengkristal menjadi Norwegia, Swedia, Finlandia dan Denmark hari ini.

Satu millennium kemudian, para sarjana kembali kepada Ibn Fadlan, al-Tartushi, al-Mas’udi dan para penulis Arab lainnya untuk melacak persinggahan-persinggahan mereka dan mencari-cari di dalam gundukan tanah dan timbunan-timbunan penguburan dirham orang-orang Norse yang telah dibawa pulang. Menurut Noonan, sebagian dari 100,000 dirham koin-koin, kebanyakan disimpan antara tahun 900 dan 1000, telah digali hingga kini di Swedia sendiri, dan terdapat lebih dari seribu catatan timbunan-timbunan individu dari lima atau lebih banyak koin yang melewati Skandinavia, Rusia dan negara-negara Baltic. Sebagai tambahan atas catatan-catatan tersebut, koin-koin Muslim membawa detil-detil penting tentang tahun dan tempat pencetakan bagi para ahli numimastik (pengumpul medali dan coin) dan arkeologi modern. Suatu penemuan sempurna di Uppland, Sweden berisi suatu campuran dari koin-koin yang dicetak di Baghdad, Kairo, Damascus, Isfahan dan Tashkent.

Pada waktu dekat, pengetahuan ini akan secara luas tersedia. Katalog Noonan tentang semua koin dirham yang ditemukan di Skandinavia dan Eropa Barat akan diterbitkan oleh the Numismatics Institute of the University of Stockholm. Buku pertamanya pada subyek ini, sebuah kumpulan artikel yang berjudul The Islamic World, Russia and the Vikings, 750-900: The Numismatic Evidence, telah diterbitkan oleh Ashgate di tahun 1998 (ISBN 0-86078-657-9).

Demikian juga di Norwegia, bekas archeologist and numismatist dari Universitas Tehran Houshang Khazaei telah menyelesaikan satu Katalog dalam bahasa Inggris dari mata uang perak Kufic yang ditemukan di Norwegia, banyak diantaranya sekarang ini terpajang di Musium Warisan Budaya Universitas di Oslo.

“Kita mulai melihat ketertarikan baru atas subyek ini, sesuatu yang telah dilewatkan terlalu lama,” kata Khazaei, yang karyanya segera diterbitkan. Barang-barang peninggalan lain dari perdagangan Viking-Arab telah ditemukan di Skandinavia juga: manik-manik dari batu kristal dan comelian, gelas Persia, sutera-sutera, perhiasan-perhiasan dan kapal-kapal. Sebagai tambahan, perdagangan dengan bangsa Arab telah meninggalkan tandanya pada bahasa-bahasa Nordic, dengan kata-kata yang asalnya sama (cognate words) seperti kaffe, arsenal (gudang senjata), kattun (cotton atau kapas), alkove, sofa (dipan), dan kalfatre (kata Arab untuk aspal, yang digunakan untuk dempul perahu). Seorang sejarawan juga menyatakan bahwa inspirasi untuk layar pada kapal-kapal Viking berasal dari perahu-perahu besar Arab (dhow) yang diamati oleh para pedagang Norse pertama di Laut Hitam.

Tetapi hutang budi terbesar bangsa-bangsa Skandinavia terhadap orang-orang Muslim berada di dalam halaman-halaman usang naskah-naskah. Di sana, suara-suara dari kesenyapan yang panjang muncul membantu sejarawan-sejarawan, ahli arkeologi dan ahli bahasa untuk memperjelas masa lalu yang banyak difitnah. Haakon Stang, pada disertasinya tahun 1996 di Universitas Oslo The Naming of Russia (Penyebutan Rusia), berterimakasih kepada bangsa Arab yang “dengan cara mereka, membuat kita mendengar, melihat dan merasakan apa yang terjadi di masa lampau, yang jika tidak demikian, maka kehilangan tersebut tidak dapat kita peroleh kembali.” [habis/www.hidayatullah.com]

Pos ini dipublikasikan di Iptek, Islam, Sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s