MUSIK MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN

JAKARTA–Percaya atau tidak, kegemaran menikmati musik memungkinkan individu lebih cepat sembuh dari ragam penyakit. Sejumlah riset menyimpulkan hobi bermusik atau sekedar menikmati musik, efektif menyembuhkan seseorang dari penyakit seperti, autisma, alzheimer, stroke atapun stress.

Di AS, musik telah menjadi semacam terapi alternatif. Total 5.000 terapi musik telah terdaftar di departemen kesehatan negara itu bahkan, terapi musik kini menjadi bagian dari layanan setiap rumah sakit. Umumnya, terapi digunakan untuk rehabilitasi dan penyembuhan dari cedera ataupun operasi.

Kendati terapi musik mengunakan semacam improvisasi dan teknik untuk membantu pasien menyembuhkan diri, pakar neurologi coba mencari tahu bagaimana musik membantu otak untuk menghadirkan kemampuan menyembuhkan. Peneliti juga penasaran untuk mengetahui jenis musik apa yang dapat menghadirkan optimalisasi penyembuhan pasien.

“Musik mungkin memberikan alternatif masukan kepada otak, dengan begitu banyak pintu di otak menuju penyembuhan dari cedera atau sakit,” ujar peneliti dari Gottrie Schlaug, Pakar Neurologi, Univesitas Harvard seperti dikutip dari healthkey.com, Senin (5/4).

Schlaug menambahkan harmoni, tekanan, irama, emosi dan segenap komponen dari musik menyebar di berbagai daerah di otak. Dan kebanyakan dari wilayah itu merupakan tempat berdiamnya kemampuan berbicara, bergerak dan interaksi sosial.

Jika penyakit atau trauma di otak berasal dari berdiamnya kemampuan itu, bisa jadi, komponen musik mampu memberikan rute menuju penyakit tersebut dan dapat diketahui langkah apa yang bakal dilakukan.

“Secara logika, kita menggunakan alat musik untuk mengaktifkan bagian dari otak dan kemudian memberikan stimulus pada otak untuk memberikan kemampuan pada kita untuk memainkan alat musik,” ujarnya.

Schlaug kemudian mencontohkan pasien yang menderita mengalami kesulitan untuk berbicara. Ia beserta kolega segera memberikan terapi bernyanyi terhadap pasien itu. Hasilnya, secara perlahan pasien itu mampu berbicara.

“Paska operasi, bagian otak yang bertugas menghadirkan kemampuan berbicara rusak. Tentu saja, untuk memperbaikinya perlu stimulus agar otak menyembuhkan diri dengan cara yang sama ketika anda ingin berbicara,” paparnya.

Untuk kasus kemampuan bergerak,–jika pasien cukup tua–Schalug menyarankan meniru sosok John Travolta ketika menyanyikan lagu “Staying Alive” pada pembukaan film “Saturday Night Fever”. Lalu bayangkan pasien yang menderita parkinson, penyakit degeneratif kondisi otak yang mempengaruhi kemampuan seseorang bergerak dan berbicara.

Di sini lah, ritme musik masuk lewat pintu belakang otak pasien parkinson dan memperbaiki fungsi otak yang menurun akibat parkinson. Mempersenjatai jaringan yang berfungsi menerima dan mengantisipasi ritme dengan musik bernada teratur dan ketukan yang terprediksi juga dapat menstimulus otak memperbaiki kemampuan bergerak,” paparnya.

Begitu nada-nada itu ditangkap, seorang pasien Parkinson dapat menggunakan ketukan musik tersebut untuk menjaga dan melatih otot syaraf yang selalu bergetar dalam kondisi diam. seperti jeda antar nada dalam irama. “Efeknya sangat bagus dan bahkan hasilnya terlihat cepat. Sulit berpikir terapi lain yang memiliki efek secepat ini,” tegas Schlaug.

sumber: republika/cr2/berbagaisumber

Pos ini dipublikasikan di Iptek, Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s