Chiang Mai – Hari 1

Berbeda dengan tulisan-tulisan sebelumnya yang dicomot dari berbagai sumber, kali ini saya coba menulis pengalaman jalan-jalan ke Thailand. Perjalanan ini dimulai tahun lalu ketika ada promo Airasia nol rupiah. Nol rupiah untuk tiket, tapi masih harus bayar airport tax. Ada teman yang sudah biasa jalan-jalan ke luar negeri ngajakin, sebut saja namanya Dipta. Aku iyain aja, toh murah. Perjalanan Jakarta ke Chiang Mai (transit di Kuala Lumpur) total sekitar 450 ribu. Perjalanan baliknya dipikir belakangan kalau ada promo lagi. Tapi sampai mendekati hari H belum ada promo Bangkok-Jakarta, baik direct maupun transit. Baru sekitar sebulan sebelum berangkat kita putuskan beli tiket Bangkok-Jakarta seharga Rp 1 juta. Hitungannya masih murah sih.

Malam keberangkatan diwarnai sedikit drama. Ceritanya hari itu saya ada keperluan di kantor pusat. Sampai jam 4 sore belum kelar, tapi aku paksain pulang karena janjian berangkat ke bandara jam 5. Pinginnya pulang bareng Dipta, dia sudah bilang mau pulang jam 4 juga. Apa daya HP sudah mati kehabisan tenaga. Nggak tahu cerita macetnya jakarta jam 4 sore, saya naik Transjakarta lanjut feeder ke Stasiun Palmerah. Jalur busway sih lumayan steril, lancar. Tapi… di feedernya itu lho, bikin bolak-balik ngelus dada. Halte Senayan JCC – Stasiun Palmerah sejam mungkin ada. Alhasil sampai rumah tepat adzan Maghrib, jam 6 kurang. Dan… Dipta dkk sudah berangkat duluan ke bandara. Huaaa… kalian jahat😦 .

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, saya berhasil nyusul ke bandara naik taksi. Tanpa macet seperti kekhawatiran semula. Tapi yang bikin nyesek adalah tagihannya harus dibayar sendiri, nggak di-share berempat.😦

Pesawat AirAsia tinggal landas meninggalkan Jakarta dan mendarat di Kuala Lumpur pada tengah malam. Menunggu penerbangan yang membawa kami keesokan harinya, kami mencari tempat untuk sekadar merebahkan badan. Ada area kecil di dalam bandara KLIA 2 yang penuh dengan orang tidur. Di tempat itulah kami melabuhkan kaki. Beralaskan karpet dan berbantalkan tas masing-masing, kami rebahan. Area itu hanya dipisahkan pagar kaca setinggi pinggang sehingga orang yang lalu lalang dapat leluasa melihat kami. Tak apalah, cuma lima jam saja di sana, apalagi tengah malam begitu tak banyak orang lewat.

Pukul 6.40 waktu Kuala Lumpur, pesawat yang membawa kami lepas landas menuju Chiang Mai. Kami hanya berdua, dua orang lainnya pesawatnya berangkat sore. Perjalanan cukup panjang, memakan waktu tiga jam lebih. Sampai Chiang Mai jam 11 waktu Thailand. Jika di Kuala Lumpur masih belum merasa asing, di Chiang Mai mulai terasa asing. Semua orang berbicara bahasa Thai dan tulisannya pakai aksara Thai yang mirip aksara Jawa itu. Maka sejak saat itu dimulailah penggunaan bahasa Inggris diselingi sedikit bahasa tubuh.

Karena mayoritas masyarakat Thailand beragama Buddha, kami memutuskan untuk makan dulu di bandara di gerai yang sudah kami kenal, Mc.D. :p Tapi, menu di Mc.D ternyata banyak yang berbahan B2 alias babi. Karena tak ada gerai lain yang kami kenal, terpaksa kami beli juga di Mc.D, bubur bebek.

Setiba di hotel, hal yang dinanti-nanti sejak malam sebelumnya adalah… tidur normal di kasur. Mendekati waktu ashar, kami menuju masjid terdekat sekalian jalan-jalan. Tapi…masjidnya tidak memiliki tanda-tanda kehidupan. Pintu pagar yang mengelilingi masjid terkunci. Tidak terlihat ada orang pula di dalamnya. Padahal saat itu sudah memasuki waktu ashar. Kami putuskan untuk menunggu sebentar, siapa tahu sholat ashar dimulai lebih lambat karena sedikitnya orang Islam di sana. Sampai kira-kira lima belas menit kemudian, tidak ada tanda-tanda masjid bakal dibuka. Kami putuskan untuk kembali ke hotel dengan melewati rute yang berbeda.

CIMG1594

Chiang Mai adalah sebuah kota tua yang dikelilingi benteng. Mirip Yogyakarta. Didirikan pada tahun 1296 sebagai ibukota Kerajaan Lanna, menggantikan Chiang Rai. Hm…sezaman dengan Kerajaan Majapahit. Tapi bedanya, ketika mengalami kemunduran, ibukota Kerajaan Majapahit ditinggalkan penduduknya. Sedih. Nah, benteng kota lama Chiang Mai ini masih berdiri kokoh mengelilingi kota lamanya. Di luar benteng ada pula parit yang cukup lebar dengan ikan-ikannya yang banyak dan besar-besar. Ikan-ikan ini (sepertinya ikan mas) berenang-renang di permukaan bila ada orang yang menebar makanan. Cantik.

Malamnya kami jalan-jalan ke Night Bazaar. Ada banyak restoran, toko-toko suvenir, dan toko baju. Di sekitar situ kami menemukan masjid terbesar di Chiang Mai. Namanya Masjid Hidayatul Islam Banhaw, beralamat di Charoen Prathet 1 Alley. Lokasinya sangat strategis, tinggal belok dari jalan raya Chang Klan, tempat Night Bazaar berada. Masjidnya cukup besar, satu komplek dengan gedung besar yang sepertinya adalah Islamic Center. Di blok jalan itu dapat kita temui beberapa restoran halal. Di situlah kami makan malam. Nama restorannya Sofia Restaurant. Kami dilayani oleh ibu-ibu yang hiperaktif. Beliau memberikan daftar menu kepada masing-masing orang. Kemudian entah berapa kali ibu itu bolak balik ke tempat kami untuk menanyakan pesanan, menjelaskan menu, lalu ke meja lain melakukan hal serupa. Setelah kami memilih menu, tanpa mencatat pesanan kami ibu itu berjalan cepat ke tempat lain. Tak lama beliau kembali ke meja kami untuk menanyakan minum apa. Lalu dengan cepat berjalan lagi ke meja lain juga menanyakan minum. Setelah berputar-putar sibuk sendiri, ibu itu bingung membawakan pesanan. Sambil menebak-nebak siapa yang memesan menu itu. Ketika tak ada hal lain yang bisa dilakukan, ibu itu mengambil dua lembar menu yang kami letakkan di meja sebelah, tapi tidak mengambil daftar menu di depan kami. Sempat terpikir pikiran usil untuk menaruh satu per satu daftar menu di meja sebelah supaya si ibu bolak-balik mengambil daftar menu itu satu per satu pula. Haha…kami sampai kasihan melihat ibunya capek sendiri. Makan berempat kami habis 305 baht atau sekira 118 ribu rupiah. Kurang lebih sama jika dibandingkan dengan rumah makan di jakarta.

Bersambung…

Pos ini dipublikasikan di Perjalanan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s