Chiang Mai – Hari 2

Hari kedua di Chiang Mai diawali dengan jalan-jalan ke pasar pagi. Suasananya mirip seperti pasar tradisional di Indonesia. Di sana kami beli sesisir pisang seharga 25 baht atau sekira 9.750 rupiah. Kalau harga sesisir pisang di pasar tradisional di Indonesia berapa ya?

Rencananya, selama di Chiang Mai kami akan menyewa sepeda motor. Sebenarnya hotel menyewakan sepeda motor dengan harga 200 baht per 24 jam, tapi sebelumnya kami membaca sebuah billboard di depan ruko yang menyebutkan harga sewa sepeda motor di sana 99 baht saja. Tentu kami pilih yang murah dong. Kami sewa dua sepeda motor. Yang satu modelnya seperti Honda Scoopy, yang satu seperti Honda Revo tapi lebih kecil. Sekadar informasi, sepeda motor di Thailand mirip dengan sepeda motor yang ada di Indonesia, tapi dengan nama yang berbeda. Lain halnya dengan mobil. Di sana kebanyakan mobil adalah sedan dan pick up double cabin.

Seperti kebanyakan penyewaan sepeda motor / mobil, bensin yang ada di tangki tersisa sedikit. Mungkin mereka memang membiarkan bensin kendaraannya tersisa sedikit dari penyewa sebelumnya. Sebagai bekal perjalanan tiga hari ke depan, kami mengisi penuh bensinnya. Total yang harus kami bayarkan untuk dua sepeda motor adalah 160 baht atau sekira 62 ribu rupiah. Dari informasi yang saya peroleh, harga bensin di Thailand memang lebih mahal daripada di Indonesia. Sekira 9.700 per liter untuk bensin dengan RON 91, sedikit di bawah Pertamax yang RON-nya 92.

Hari itu kami berencana untuk mengunjungi lokasi-lokasi wisata yang masuk ke kawasan Doi Suthep-Pui National Park. Doi Suthep dan Doi Pui adalah dua puncak gunung di Barat Chiang Mai dengan tinggi masing-masing 1.676 dan 1.685 meter. Setelah melewati Chiang Mai Zoo, sepanjang jalan disuguhkan pemandangan hutan yang mengering. Kondisinya mirip dengan hutan di Taman Nasional Baluran ketika musim kemarau. Bedanya, di kawasan Doi Suthep-Pui National Park jalannya amat mulus dan lebar. Lebih lebar daripada jalan nasional antara Situbondo-Banyuwangi yang membelah Taman Nasional Baluran (padahal ketika berkendara di jalan raya Situbondo-Banyuwangi rasanya sudah lega banget). Jalur ke atas ada dua lajur sedangkan ke bawah ada satu lajur. Ada lajur khusus sepeda di kedua sisi jalan. Herannya, banyak pengendara sepeda yang memanfaatkan lajur itu. Padahal jalannya naik, dan panas pula. Tapi lebih banyak yang turun sih. Mungkin mereka sudah bersepeda naik pas shubuh, dan turun ketika hari menjelang siang. Di perjalanan kami berhenti di lokasi wisata yang seharusnya adalah air terjun, namanya Huew Kaew Waterfall. Tapi berhubung belum masuk musim penghujan, sungainya benar-benar kering. Begitu pula dengan air terjun-air terjun di lokasi yang lebih tinggi. Belum sampai masuk ke lokasi air terjun, kami diberitahu oleh penjaga taman nasional bahwa airnya sedang kering. Sampai ketinggian tertentu, panorama yang disuguhkan berubah menjadi hijau. Mata jadi segar melihatnya.

Empat belas kilometer dari Chiang Mai ada Wat Phra That Doi Suthep, sebuah tempat ibadah umat Buddha khas Thailand dengan pagoda berwarna emas dan patung-patungnya.

Untuk menuju ke tempat ini harus menaiki 309 buah anak tangga. Sebelum pintu masuk ada konter penjualan tiket khusus turis asing yang agak menjorok ke samping sehingga tidak tampak kalau tidak ada tulisan petunjuknya di gerbang masuk. Salah seorang teman yang sampai duluan dan tidak membaca ada tiket khusus orang asing hendak langsung masuk dan tidak ditegur oleh petugas penjaga gerbang. Mungkin karena perawakan dan muka orang Indonesia tidak berbeda dengan orang lokal Thailand. Baru setelah kami membeli tiket, penjaga gerbang bertanya kami dari mana. Dengan ramah si Bapak penjaga mempersilakan kami masuk.

Di pintu masuk pagoda terpampang foto Raja dan Permaisurinya. Foto Raja dan Permaisuri Raja Thailand memang terpampang di banyak tempat. Di kota, di jalan menuju taman nasional, dan di kuil. Di depan foto keduanya ada meja yang tampaknya tempat meletakkan sesajian. Masyarakat Thailand sangat menghormati rajanya. Mungkin ini salah satu sebab mengapa kebanyakan uang baht Thailand yang beredar kualitasnya lebih bagus jika dibandingkan dengan rupiah yang beredar di Indonesia, bahkan nominal kecil sekalipun. Foto raja menghiasi setiap lembar dan koin baht. Maka jangan sekali-kali menginjak uang baht yang jatuh, atau meremas uang, karena itu dianggap tidak sopan / melecehkan raja.

Empat kilometer dari Wat Phra That ada Bhubing Palace, tempat kediaman keluarga raja ketika mereka mengunjungi Thailand Utara. Sebenarnya tempat ini terbuka untuk umum, namun sayang ketika kami ke sana sedang ditutup. Mungkin karena keluarga kerajaan sedang liburan di situ.

Makin ke atas jalannya makin sempit, dan jalan raya berakhir di Hmong Village, sebuah desa yang dihuni masyarakat suku Hmong. Suku Hmong asalnya dari Selatan China dan bermigrasi ke banyak negara. Termasuk Thailand, Vietnam, Laos, dan Amerika Serikat. Di Hmong Village ini berjejer toko-toko suvenir kerajinan masyarakat desa. Di salah satu sudut jalan desa ada gerbang masuk ke taman bunga dengan tiket masuk 10 baht. Banyak wisatawan lokal yang menikmati taman bunga dengan mengenakan pakaian khas suku Hmong yang disewa di salah satu toko. Setelah puas, kami makan di salah satu rumah makan di Hmong Village yang dimiliki oleh keluarga Muslim. Kami tidak bertanya kepada mereka apakah mereka asli suku Hmong atau pendatang. Tapi jika dilihat dari wajahnya, mereka tidak berbeda dengan orang-orang suku Hmong yang lebih mirip ke Tionghoa daripada Melayu. Dengan ramah mereka melayani kami makan siang dan bertanya apakah kami dari Indonesia ataukah Malaysia. Tamu lain yang makan di rumah makan ini tampak seperti rombongan dari Malaysia.

Selesai makan kami kembali menyusuri jalan yang sama untuk pulang. Tapi sebelum pulang, kami sempat berbelok ke jalan yang papan penunjuknya menunjukkan arah sebuah sekolah. Di sana kami menemukan seperti area perkemahan namanya: ลานกางเต็นท์ดอยปุย (entah bagaimana cara membacanya). Di situ bagus untuk dijadikan latar untuk berfoto. Suasananya seperti di salah satu sudut D’Ranch Bandung. Selesai foto-foto kami lanjut menyusuri jalan aspal yang rusak dan berkelok-kelok naik turun. Di ujung jalan kami kembali menemukan sebuah desa yang tak ubahnya seperti desa di pedalaman Indonesia. Tapi karena sepertinya tidak diperuntukkan sebagai tujuan wisata, tidak ada yang bisa kami lakukan di sana.

Waktu sudah menunjukkan pukul 16 ketika kami sampai di pinggiran kota. Saya ingin segera kembali ke hotel untuk sholat Dhuhur dijamak Ashar, sementara sahabat saya yang satu ingin mampir dulu ke museum karena museum tutup jam 17 dan waktu Maghrib masih jam 18.45. Kami berpisah di jalan, lebih tepatnya terpisah karena saya tidak dapat menyusul mereka yang tiba-tiba saja meninggalkan kami. Saya kira mereka ke depan untuk mencari tempat teduh agar bisa nyaman berdiskusi. Ternyata langsung cao. Tak berapa lama setelah sampai hotel, kedua teman kami sudah kembali. Dengan wajah ceria Dipta berkata bahwa museumnya tutup. Aku yakin sebenarnya dia kecewa karena museumnya tutup tapi berusaha menunjukkan wajah cerahnya. Mungkin sebagai rasa penyesalan telah meninggalkan kami dia tidak ingin membagi kekecewaannya. Terima kasih sahabat.🙂

Bersambung…

Kutipan | Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s