Chiang Mai – Museum dan Kuil

Hari ini Hari Jumat. Hari ketika laki-laki Muslim diwajibkan untuk menunaikan Sholat Jumat. Demi memenuhi kewajiban ini kami memutuskan untuk tinggal di Kota Chiang Mai seharian agar tidak tertinggal ibadah Sholat Jumat di Masjid terbesar di kota ini, Masjid Hidayatul Islam atau Masjid Ban Ho (王和清真寺) (Thai: มัสยิดเฮดายาตูลอิสลามบ้านฮ่อ), salah satu masjid di antara tujuh masjid Tionghoa di Chiang Mai. Masjid ini dibangun pada abad ke-19 oleh orang-orang Tionghoa Suku Hui (Suku Han Muslim).

chiang-mai-masjid-hidayatul-islam-banhaw-8263

Komplek Masjid Ban Ho dan Pendidikan Islam
(Sumber Gambar: http://www.chiangmailocator.com/design/photosbiz/chiang-mai-masjid-hidayatul-islam-banhaw-8263.jpg)

Tidak keluar kota bukan berarti tidak jalan-jalan. Chiang Mai memiliki banyak tempat menarik di dalamnya. Ada pasar, museum, candi, kuil, atau sekadar menikmati suasana kota. Pagi hari hingga menjelang Dhuhur kami sempatkan untuk mengunjungi dua museum di kota ini, Lanna Folklife Museum dan Chiang Mai Historical Centre. Kedua museum ini berdekatan, hanya dipisahkan oleh jalan, Three King’s Monument, dan Chiang Mai City Arts and Cultural Centre. Sebenarnya Chiang Mai City Arts and Cultural Centre ini menempati gedung tua yang indah, sama seperti Lanna Folklife Museum tapi lebih besar. Tapi sayang waktu itu sedang direnovasi.

Lanna Folklife Museum, Chiang Mai Historical Centre, dan Chiang Mai City Arts and Cultural Centre sama-sama menampilkan kebudayaan Kerajaan Lanna, kerajaan yang pernah memerintah Thailand Utara dan berpusat di Chiang Mai. Tiket masuk per orang untuk tiap museum ini seharga 90 baht, kalau dirupiahkan sekira 35 ribu. Jika dibandingakan dengan di Indonesia, 35 ribu terlalu mahal karena rata-rata tiket masuk museum di Indonesia adalah 5 ribu, bahkan gratis. Berikut pernak-pernik yang dipamerkan di Lanna Folklife Museum:

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Penampakan dalam Lanna Folklife Museum

Ketika berjalan dari Lanna Folklife Museum menuju Chiang Mai Historical Centre kami menemukan sebuah kuil kecil yang indah. Di bagian sampingnya ada dua belas patung biksu kecil yang lucu-lucu dengan berbagai posisi; seperti bersedekap, menutup mulut, menutup telinga, menutup mata, menangkupkan tangan, dan lainnya. Yang sama dari kedua belas patung itu semua matanya merem. Termasuk yang posisinya sedang menutup mata dengan kedua tangan (tak mungkin mata melek tapi ditutup pakai tangan kan, tangannya nempel mata lho…). Berikut penampakannya:

Chiang Mai Historical Centre adalah sebuah museum dengan halaman berumput hijau yang cukup luas dan ditumbuhi bermacam pohon. Gedung yang ditempati museum ini seperti rumah besar yang dibangun pada zaman kolonial (padahal itu adalah gedung baru dan Thailand tidak pernah dijajah). Gedungnya besar dengan teras yang cukup luas. Perawatannya pun apik. Mungkin karena museum ini termasuk baru di Chiang Mai. Di dalam museum diceritakan sejarah panjang perjalanan Kota Chiang Mai dan wilayah Utara Thailand. Pada masa pembangunannya, ditemukan bekas candi kuno di bawah lokasi pembangunan. Alih-alih menghentikan pembangunan, pembangunan gedung museum terus berjalan dengan sedikit perubahan desain yang justru memberi sentuhan unik bagi museum ini, yakni ada ruang pamer reruntuhan candi dan penggalian gerabah di bagian bawah museum.

Di seberang Chiang Mai Historical Centre ada toko suvenir khas Thailand. Di depannya dipampang ratusan kartu pos beragam gambar dan foto. Kartu pos-kartu pos ini diklasifikasikan berdasarkan harganya. Mulai dari 7 baht atau 2.730 rupiah. Selain kartu pos ada perangko edisi khusus yang dicetak di lembaran besar, berisi tambahan gambar latar dan keterangan gambar. Ada pula gantungan kunci, tempelan kulkas, dan lainnya. Saya beli tempelan kulkas bergambar bendera Thailand seharga 25 baht (9.750 rupiah) dan perangko edisi Thai Heritage Conservation Day yang dicetak 2 April 2010 seharga 50 baht (19.500 rupiah). Tapi penjelasan yang tertulis di baliknya semua beraksara Thai.😛 Sementara yang lain beli kartu pos dan meminta tolong si ibu pemilik toko untuk menuliskan pesan dan alamat dalam bahasa Thai, saya melihat-lihat kartu pos. Ibu pemilik kos memiliki seorang anak perempuan yang mungkin berusia sebelas tahun. Anak ini memiliki kebutuhan khusus sehingga si ibu harus bolak-balik meminta maaf karena anaknya mengganggu saya dengan menjatuhkan barang-barang dagangan di depan saya dan meminta saya untuk mengembalikannya ke tempat semula. Saya sih maklum saja. Dari ibu pemilik toko suvenir ini saya bisa melihat sabarnya seorang ibu menghadapi anaknya, walau hanya berjumpa sebentar.

Dan sekarang saatnya pergi ke Masjid. Yang unik dari sholat Jumat di Masjid Ban Ho adalah:

  1. Tempat wudhunya pakai bangku untuk duduk. (Ini ternyata biasa di masjid-masjid dan musholla di Thailand) Di Indonesia juga ada beberapa masjid yang pakai bangku sih, tapi tidak umum.
  2. Jika biasanya Anda masuk masjid di Indonesia ketika mepet waktu Dhuhur masjidnya sudah lumayan terisi penuh, di sini masih lengang. Seperti 30-45 menit sebelum masuk waktu Dhuhur.
  3. Di sisi kiri dan kanan ruang utama sholat ada meja dan kursi untuk tempat sholat para manula (ternyata ini umum di masjid-masjid di sana).
  4. Karpet masjid cuma setengah badan. Jika ada musholla atau masjid di Indonesia yang alas sholatnya setengah badan, biasanya itu untuk meletakkan kepala ketika sujud. Lain halnya di sini, itu untuk kaki. Sementara ketika sujud ya kepalanya diletakkan di lantai yang tanpa alas.
  5. Jamaah shalat Jumat di Masjid Ban Ho multietnis. Melayu, Arab, Eropa, India, Thai, dan yang paling banyak adalah orang Tionghoa.
  6. Sebelum adzan ada pengumuman-pengumuman. (di Indo juga gitu kalee…lalu apa bedanya?) Di sini pengumumannya dwibahasa, Mandarin dan Thai. Juga waktu untuk pengumuman saja memakan 30 menit. Appah??? Bahkan lebih lama daripada khutbahnya. Ternyata ini penyebab sepinya masjid ketika mendekati waktu Dhuhur. Orang malas ndengerin pengumuman. Haha..
  7. Sebelumnya saya menduga bakalan ada ibu-ibu / kaum wanita yang ikut sholat Jumat karena sedikitnya Umat Islam. Ternyata??? Tadaa….semuanya bapak-bapak / om-om / mas-mas. Selesai shalat ada gerombolan ibu-ibu Tionghoa yang turun dari gedung pendidikan Islam di sebelah Masjid. Entah apakah mereka ikut sholat Jumat dari tempat yang terpisah atau usai mengikuti kelas agama.
  8. Seperti beberapa masjid di Indonesia yang sekalian menggelar bazar, di sini juga ada stan yang menjual makanan. Tapi cuma satu.

Sholat Jumat selesai ketika jam hampir menunjukkan angka 2. hhh….lapar. Saatnya makan siang. Kami makan siang di kedai makan di depan Masjid. Namanya Fatimah Restaurant. Yang punya bapak-bapak keturunan semi Arab-India. Selain kedai makan, di situ juga ada beberapa komputer untuk berselancar di dunia maya. Juga ada pojok baca. Kami pesan nasi briyani, jus, dan minuman sejenis yogurt. Saat pesanan meja sebelah datang, kami sempat terkejut. Porsinyee…kayak porsi kuli. Besar. Padahal yang pesan bapak-bapak setengah baya. Kami makin bergairah menunggu pesanan kami datang. Pesanan datang, dan memang besar, dengan banyak daging. Nyam… Rasanya? Jangan tanya. Wenak. Yogurtnya pun yahud. Bahkan kami dapat tambahan segelas kecil yogurt. Untuk harga, total 280 baht atau 109.200 rupiah untuk 3 porsi nasi briyani, 2 jus, dan 1 yogurt. Lumayan. Kami ingin kembali lagi ke sana esok paginya untuk menikmati sup buah yang katanya spesial di situ dan hanya tersedia pagi hari. Tapi keinginan itu tak terpenuhi sampai kami kembali ke Jakarta.😦

Sore hari saatnya kembali jalan-jalan keliling kota. Kami mengunjungi beberapa Wat atau Pagoda bila di Kamboja. Untuk masuk ke Wat-Wat ini tidak dipungut biaya. Anda bebas keluar masuk asal tidak melanggar pantangan-pantangan yang informasinya dipampang di tiap Wat, seperti jangan memakai pakaian mini, jangan mengarahkan kaki ke patung Buddha, dan copot alas kaki ketika memasuki ruang dalam kuil. Sebenarnya saya kurang sreg untuk masuk ke dalam ruang ibadah. Nggak enak sama orang-orang yang sedang beribadah di dalamnya, takut mengganggu. Bayangkan saja ketika Anda sedang shalat di dalam masjid kemudian datang serombongan wisatawan asing yang melihat-lihat interior masjid dan cara Anda shalat. Tidak nyaman bukan? Tanpa perlu masuk pun sebenarnya bagian luar kuil sudah indah, belum tamannya, patung-patungnya, dan candi tua bekas tempat ibadah kuno. Tapi bagaimana jika interior dan ornamen di dalam kuil begitu indah? Keinginan untuk masuk tentu begitu besar. Kami masuk dengan hati-hati agar tidak mengganggu yang sedang beribadah, mencoba sesenyap mungkin, dan berjalan tenang.

Kami berkunjung ke  Wat Chiang Man dan Wat Chedi Luang. Wat Chiang Man adalah candi pertama yang dibuat di Chiang Mai, pada tahun 1297. Di komplek candi ini ada satu bangunan utama yang disangga oleh patung-patung gajah dengan ukuran sebenarnya yang muncul dari dinding candi.

Wat Chedi Luang adalah candi Buddha yang dibangun di abad ke-14 oleh Raja Saen Muang Ma untuk menguburkan abu jenazah ayahnya. Namun baru selesai dibangun pada pertengahan abad ke-15 oleh Raja Tilokaraj. Saat itu Wat Chedi Luang adalah bangunan terbesar di Kerajaan Lanna dengan tinggi 82 meter dan diameter 54 meter. Kemudian pada tahun 1545, 30 meter dari puncak bangunan runtuh karena gempa bumi. Bekas dari kerusakan ini bisa kita saksikan dari bagian atas candi yang tinggal separo. Tidak seperti Candi Borobudur yang dibuat dari batu, candi-candi di sini terbuat dari bata merah.

Malam harinya kami jalan-jalan ke sebuah Wat. Tak ada wisatawan lain selain kami. Tapi tak ada larangan untuk masuk di malam hari. Suasananya sangat sepi. Pemandangan di malam hari berbeda. Unik. Penataan cahaya lampu berpadu dengan warna emas kuil. Sebenarnya ada taman di halaman sekeliling kuil. Tapi kami tak bisa menikmatinya karena suasanya yang gelap. Sementara di sisi lain komplek sedang ada kegiatan peribadahan.

Bersambung…

Kutipan | Pos ini dipublikasikan di Perjalanan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s